Ini Harapan atau Ekspektasi Ya?
Harapan
namanya, yang mungkin menjadi awal dari semua yang kita lakukan. Karena seringkali
kita bergerak dan bertindak didasarkan atas pengharapan akan memperoleh manfaat
atau sesuatu yang kita impikan dan inginkan atas suatu usaha yang dilakukan. Harapan
menjadi semacam perwujudan doa baik yang dilangitkan akan kelancaran,
keberhasilan, kesukesan, dan hal baik lainnya akan sesuatu. Dalam proses
pembentukan harapan tersebut, maka di sini kita bisa memiliki dua peran
sekaligus, yaitu pemberi harapan dan penerima harapan. Si pemberi harapan ini
memaksudkan bahwasanya harapan yang diberikannya itu ialah sebagai bentuk
dukungan serta respon positif dan optimis terkait sesuatu. Selanjutnya ketika
harapan tersebut sampai kepada si penerima harapan, yang terkadang dalam situasi
dan kondisi tertentu menjadikan mereka “tidak selalu siap” untuk menerimanya
dengan baik, maka harapan ini akan ditafsirkan menjadi suatu hal yang harus
mereka wujudkan yang bahkan seringkali disertai dengan ekspektasi. Yap, karena
biasanya akan ada bayangan ekspektasi yang timbul ketika harapan tersebut
diberikan atau bisa dikatakan bahwasanya ketika ada harapan yang muncul maka
akan ada juga ekpektasi yang menyertai dan membersamai. Entahlah, jika dilihat
dalam hal ini terutama pada situasi tersebut, harapan seakan menjadi suatu pergejolakan,
apakah harapan akan selalu menjadi doa baik untuk diamini atau malahan menjadi
beban ekspektasi yang menghantui.
Pernah
ga sih, kalian takut dan menghindar jika ada orang lain, entah itu orang tua,
keluarga, tetangga, atau bahkan orang yang kalian temui di jalan lalu mereka mulai
melafalkan kata-kata “Semoga kamu bisa.........” dan banyak kata semoga lainnya.
Ya, aku pernah merasakannya bahkan sering. Hmm ga tau ya, terkadang di situasi
tertentu, aku memaknai harapan yang diucapkan tersebut selalu dibalut dengan
ekspektasi. Yap, ini kerap kali terjadi ketika kita sedang merasa “ga baik-baik
aja”, jadinya ini mengakibatkan perkataan apapun yang sampai di telinga rasanya
terdengar sebagai kesalahan, bahkan harapan yang tadinya adalah doa baik,
berubah menjadi ekspektasi yang menyeramkan, hingga ekspektasi tersebut
menuntut kita untuk menjadi “sempurna”, untuk menjadi seperti apa yang orang
lain inginkan, dan hingga akhirnya kita merasa memiliki “kewajiban” untuk
selalu mewujudkannya.
Bukan,
bukannya kita tidak ingin mengaminkan harapan tersebut. Tetapi terkadang kita juga
masih sibuk dengan pikiran diri kita sendiri, dengan harapan diri kita sendiri,
dan ditambah lagi dengan ekspektasi diri kita sendiri. Bagi kita cukup sulit
untuk mengatur diri sendiri, terutama si ekspektasi ini. Ekspektasi diri
sendiri aja kadang ga selalu berwujud baik nyatanya, beberapa lainnya adalah
bentuk kegagalan yang layak dijadikan pelajaran atau mungkin beberapa dari kita
ingin melupakan dan mengubur ekspektasi itu dalam-dalam.
Mungkin
secara sederhana begini situasi yang terjadi, yaitu ketika kita yang memiliki
harapan terhadap diri kita sendiri, maka kita masih bisa menerimanya. Karena
kita sudah memikirkan dengan baik dan punya banyak rencana akan langkah apa
yang mau diambil untuk mewujudkan apa yang kita cita-citakan, kita gapapa untuk
melakukannya dengan pelan dan perlahan, toh kalaupun gagal kita juga masih
merasa gapapa karena kita bisa bangkit lagi dan belajar dari kegagalan itu.
Tetapi yang terasa tidak enaknya yaitu ketika yang memberikan harapan itu
adalah orang lain ditambah kita sedang berada pada proses untuk mengusahan
sesuatu, jadi ketika kita mendengar pertanyaan ataupun pernyataan dari orang
tersebut dan kemudian mereka memberikan harapan pada kita, misalnya orang tersebut
akan berkata kepada kita seperti ini; “kok kamu ngga jadi A aja?, padahal kamu
kan harusnya bisa…, ya tapi semoga kamu….”.
Maka,
dengan situasi yang seperti ini, terkadang membuat kita berpikir bahwa, kenapa
ya orang-orang ngga bisa sabar dengan proses yang kita lakukan, kenapa ya
orang-orang selalu menginginkan kita untuk menjadi lebih. Sedangkan di sisi
lain, kita sedang berusaha keras untuk mewujudkan apa yang kita cita-citakan
dan kitapun masih sungguh sabar dengan proses yang panjang ini, tetapi kenapa
orang lain ga pernah mau tau itu, yang mereka hanya mau tau dan inginkan adalah
harapan dan ekspektasi mereka untuk melihat diri kita sebagai sosok besar dan
luar biasa. Aku ngga tau apakah kalian juga pernah berpikir seperti ini, “Kita
itu hanya satu orang yang bahkan kadang ga mampu buat nge-handle diri
kita sendiri, tapi ini setiap orang di luar sana yang punya ekspektasi akan
kita, bisa dihitung kan seberapa banyak kepala dan raga di luar sana yang punya
andil untuk berekspektasi terhadap diri kita yang tunggal ini sesuai kemauan
atau harapan mereka?”. Kalau sudah memiliki pikiran seperti ini, biasanya
bakalan terasa lebih gampang capek dan energi juga terbuang sia-sia.
Ya, balik lagi kalau benar bila harapan yang
disertai dengan ekspektasi adalah salah satu hal utama dari banyaknya ketakutan
yang ada. Sehingga lambat laun ini akan menjadi beban yang bertumpuk hanya
karena kita ngga bisa memenuhi harapan orang lain. Karena semakin banyak orang
lain yang memberikan harapan, rasa-rasanya akan semakin banyak hal yang perlu
kita lakukan dan wujudkan, dan rasa-rasanya akan juga semakin sesak untuk
memikulnya sendiri. Sehingga akan ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala,
seperti; Apakah kita bisa mewujudkannya atau kita hanya berperan sebagai
seorang pengecut yang nantinya akan melukai mereka?. Jadi, bukannya kita tidak
bersyukur dan berterima kasih dengan perhatian yang orang lain berikan, tetapi
hanya saja kita takut untuk menciptakan kekecewaan yang lebih banyak. Oleh
karena itu, untuk meminimalisir hal tersebut, maka terkadang menjadikan kita sebagai
pribadi yang lebih tertutup, lebih menjaga interaksi dengan orang lain,
berhubungan dengan orang lain hanya sebatas perlunya saja, dan kita akan lebih
suka bekerja dalam diam, jadinya kayak “tutup telinga dulu, biarin orang tau
hasilnya aja nanti, tetapi di dalam proses ini aku akan ngelakuinnya dengan ngerahin
semua kemampuanku, ya biar lebih damai aja :)”.
Lantas,
sekarang bagaimana ketika kitalah yang berperan sebagai pemberi harap dan penaruh
ekspektasi kepada orang lain?
Secara ga
sadar, kita juga mungkin pernah berekspektasi terhadap sikap maupun perilaku
orang lain. Ketika kita melakukan sesuatu untuk orang lain, dan apa yang kita
dapat ga sesuai dengan harapan dan ekspektasi kita. Gimana rasanya? sakit ga
sih? kecewa? marah?
Mungkin
jika kita berekspektasi terhadap orang lain, perasaan sakit dan kecewa sudah
biasa atau bahkan pasti terjadi, tapi apa kita bisa marah? Hmm, mungkin juga ada
beberapa orang yang dengan gampangnya bisa mengungkapkan dan menyalurkan
perasaaan mereka tersebut supaya emosi dimiliki bisa dikeluarkan dan tidak
terpendam. Tetapi bagi orang yang ga enakan, palingan mereka hanya menyimpan
emosi tersebut, terus emosi yang semakin lama akan semakin bertumpuk maka cepat
atau lambat bisa saja menjadi bom waktu yang siap meledak kapanpun. Jika sudah
begini, siapa yang repot?
Lagi-lagi dalam
kehidupan ini, kita perlu ingat betul akan sikap tulus dan ikhlas, jadi ketika
kita ngelakuin sesuatu, maka kita ga perlu berharap balasan dari orang lain. Emang
kita itu siapa? Karena mereka adalah mereka, diri kita ya kita sendiri, dan
balik lagi kita semua cuma manusia biasa. Setiap orang tentunya punya banyak
hal yang ga mungkin untuk mereka sampaikan ke orang lain. Kita juga ngga pernah
tau apa yang sedang mereka rasakan dan masalah yang mereka alami secara detail.
Kita juga ga berhak menuntut mereka untuk menjadi seperti apa yang kita inginkan.
Ya, kerena setiap orang berbeda, kita dan mereka punya jalannya masing-masing.
Engga mau kan, kalo hidup kita hanya dipenuhi soal ekspektasi, apalagi ekspektasi
terhadap orang lain. Capek ga sih kalo hidup dibebani dengan ekspektasi?
Capek sih
pasti ya, mau itu ekspektasi dari orang lain ke diri kita ataupun sebaliknya.
Dengan begini jadinya kita punya energi negatif yang lebih besar, sehingga ini
akan membuat kita sering ga mood dan malas untuk ngerjain sesuatu, dan
tentunya orang di sekitar kita yang ga salah apa-apa juga bisa kena imbasnya. Terus
sekarang gimana cara kita ngaturnya?
Karena
yang punya kendali atas diri kita cuma kita sendiri, maka kita harus punya cara
pikir yang bagus dan positif untuk menanggapinya. Jadi pelan-pelan yuk kita
atur ekspektasi kita, baik ke diri sendiri, ataupun orang lain. Sekarang udah
saatnya buat kita untuk melakukan sesuatu dengan tulus termasuk untuk diri kita
sendiri. Kalo mau balasan, ya kita cuma bisa minta dan mengharap pada Allah, Sang
Maha Pemurah. Kita cuma bisa mendoakan mereka, apapun yang mereka jalani bisa
membuat mereka bahagia, termasuk kita juga bisa bahagia dengan pilihan kita
sendiri.
Kalau
nanti ketemu orang lain yang kesannya terlalu ingin banyak dan mencari tau
tentang kita, ya kalau kita lagi ga punya jawaban untuk pertanyaan mereka,
cukup senyumin aja sih. Kan senyum itu adalah ibadah hehe. Lalu ketika ada yang
memberi harapan sekaligus ekspektasi buat kita, ya kita cukup aminkan saja
perkataannya. Kita ngga perlu merasa terbebani dengan perkataan orang lain,
kalau ada dari hal tersebut yang mengganggu kita ya masuk telinga kanan terus
keluar telinga kiri deh, lalu ekspektasi dari orang lain tersebut bisa kita
ubah menjadi suatu manifestasi yang baik, dan menggapnya sebagai doa yang
mereka berikan untuk orang yang disayang.
Bukankah
harapan yang membuat kita agar tetap hidup? Jadi, harapan emang sangat perlu
untuk dijaga. Tetapi ketika harapan itu belum waktunya untuk terwujud, ya
gapapa, nangis dan kecewa boleh, pun untuk ambil jeda dan berhenti sebentar
juga gapapa, tapi tolong jangan menyerah ya. Karena kita masih bisa menciptakan
harapan dan hal-hal baik lainnya dengan jauh lebih menyenangkan. Tau kan judul
lagu “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti” dari Banda Neira? Atau lagu
“Secukupnya” dari Hindia? Atau kita juga bisa “Rehat” dulu seperti lagu milik
Kunto Aji? Yap, seperti itu juga yang terjadi di hidup kita. Mungkin ga
semuanya yang kita inginkan bisa kita dapatkan hari ini dengan mudah, tetapi
kita masih bisa mengerahkan semua kemampuan kita untuk hal itu yang tentunya kita
sertai juga dengan doa.
Pelan-pelan
aja karena kita ga lagi berlomba, pelan-pelan aja karena kita udah punya
jalannya masing-masing, pelan-pelan aja karena sesuatu yang sudah digariskan
untuk kita ya memang bakalan untuk kita, dan masih banyak pelan-pelan lainnya
yang perlu kita lakuin untuk menata isi hati dan kepala. Supaya kita bisa lebih
menikmati, lebih tenang, dan lebih nyaman dalam melewati semua prosesnya dan dalam
menjalani hidup yang ga selamanya ini. Mie instan aja yang jelas-jelas di
kemasannya bertuliskan “instan” tetap masih butuh proses untuk bisa dinikmati
dan disantap. Jadi, ga perlu terburu-buru ya, nikmatin dulu hari ini dengan apa
yang kita punya sekarang. Jangan lupa juga buat ngelakuin segala sesuatunya
dengan sepenuh hati. Semoga mau sekarang ataupun nanti, kita tetap bisa
menikmati dan memetik hasil manis dari usaha yang kita lakukan dengan hati yang
damai.

Komentar
Posting Komentar